KEDIRI, Tjahayatimoer.net – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) RI meninjau langsung industri pengolahan kayu di Kabupaten Kediri untuk melihat daya tahan usaha dan kesiapan tenaga kerja di tengah tekanan pasar.
Kunjungan kerja tersebut berlangsung Sabtu (24/10/2026), dengan menyasar dua perusahaan furniture, yakni PT Globalindo Furniture di Jalan Kediri–Kertosono, Desa Minggiran, Kecamatan Papar, dan PT Wono Jati Wijoyo di Jalan Mataram Nomor 1, Kediri. Rombongan Kemenaker didampingi Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Kediri.
Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Binapenta dan PKK) Kemenaker RI, Sugeng Hari Suseno, mengatakan secara umum operasional perusahaan masih berjalan normal, baik dari sisi administrasi maupun produksi.
"Dari sisi perizinan, perusahaan sudah memenuhi ketentuan. Hanya perlu diperhatikan masa berlaku dokumen agar tetap tertib administrasi sesuai regulasi," ujar Sugeng di sela kunjungan.
Di balik aktivitas produksi yang masih terjaga, pelaku usaha menyampaikan sejumlah tantangan yang menekan industri furniture kayu saat ini.
Kenaikan harga bahan baku, lesunya penjualan di pasar domestik, serta persaingan yang semakin ketat, baik dengan pelaku usaha dalam negeri maupun produk impor, menjadi persoalan utama.
Kondisi tersebut memaksa perusahaan untuk terus menyesuaikan strategi, mulai dari efisiensi produksi hingga penyesuaian pemasaran agar tetap kompetitif dari sisi harga dan kualitas.
Menanggapi hal itu, Sugeng berharap kondisi pasar segera membaik. Menurutnya, pulihnya pasar akan menjadi angin segar bagi keberlangsungan usaha furniture yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi Kediri.
"Jika pasar membaik, penjualan akan meningkat dan roda produksi bisa lebih terjaga. Pada akhirnya, ini juga berdampak pada keberlangsungan tenaga kerja," katanya.
Isu ketenagakerjaan menjadi sorotan lain dalam kunjungan tersebut.
Berdasarkan data BPS Agustus 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Kediri tercatat 4,71 persen, sementara Kota Kediri 3,76 persen. Angka tersebut menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah dalam penyerapan tenaga kerja lokal.
Sugeng menekankan pentingnya link and match antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.
Menurutnya, ketersediaan lowongan saja tidak cukup. Kompetensi lulusan SMA, SMK, hingga perguruan tinggi harus selaras dengan kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan.
"Ke depan, kita tidak bisa lagi perusahaan yang menyesuaikan dengan lulusan. Justru lulusan yang harus disiapkan agar sesuai dengan apa yang dibutuhkan dunia kerja saat ini," tegas Sugeng.
Ia menambahkan, lulusan tidak cukup hanya berbekal ijazah. Keterampilan yang relevan dan sesuai standar industri menjadi kunci agar dapat terserap oleh lowongan yang tersedia.
"Kalau kompetensinya sesuai, maka tenaga kerja di Kediri bisa terserap oleh lowongan yang memang sedang dibutuhkan perusahaan. Ini yang terus kita dorong," lanjutnya.
Sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan pelaku usaha, kata Sugeng, menjadi kunci untuk memperkecil kesenjangan kompetensi. Kurikulum yang adaptif dan pelatihan berbasis kebutuhan industri diharapkan mampu meningkatkan peluang kerja bagi masyarakat lokal, sekaligus membantu perusahaan mendapatkan SDM yang tepat.
Kunjungan kerja tersebut menegaskan bahwa keberlangsungan industri furniture di Kediri tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bertahan di tengah persaingan pasar, tetapi juga oleh kepatuhan administrasi, efisiensi produksi, dan kesiapan sumber daya manusia yang kompeten.
Melalui kolaborasi lintas sektor, industri pengolahan kayu di Kediri diharapkan mampu menjaga keberlangsungan usaha, mempertahankan penyerapan tenaga kerja, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. (red)
.)

0 Komentar